Namaku Gladys Caroline Swan. Keluarga dan teman-temanku selalu memanggil Glad, karena menurut mereka aku selalu dalam keadaan berbahagia. BIG WRONG.
Aku tinggal di kota Dublin dan aku berkuliah di salah satu universitas terbaik di kota kelahiranku. Aku mengambil jurusan political science. Karena daddy dan kakak laki-laki ku tersayang berkecimpung di dunia.politik. Pagi itu aku terburu-buru turun dari mobil Kak Leon karena aku punya waktu 5 menit sebelum mata kuliah pertama di mulai.
“Hati-hati Glad, nanti kamu jatuh“ Kak Leon memperingatkan, tapi aku terus berlari memasuki kampus ku.
Dan.... Brughh. Aku menabrak seseorang hingga terjatuh.
“Sorry, I‘m in hurry!“ ucapku tergesa-gesa.
“Are you OK?“ ucap orang yang aku tabrak yang ternyata seorang cowok.
“Ya, I‘m Ok. God, I‘m late. Bye“ aku langsung saja lari meninggalkan cowok itu. Pasti dia bengong melihat tingkah konyolku. But I don‘t care dari pada aku telat dan kena marah Mrs. Suzzy yang killer itu.
Finally, kuliah pertama pun selesai. Rencananya aku mau pergi ke perpustakaan buat cari bahan tugas yang baru di kasih Mrs. Suzzy. Tapi ditengah jalan aku bertemu Clariss sahabat baikku dari kecil. Namanya sih Clarissa Ramona dePunniet tapi aku biasa manggil dia Clariss. Kalau lihat kami berdua kita bagaikan bumi dan langit. Kenapa? Karena Clariss itu senang bersolek dan modis, padahal tanpa make up pun Clariss sudah cantik. Sedangkan aku, hmmm.. Aku anti dengan yang namanya make up. Bisa dibilang aku ini cewek tomboy. Clariss punya banyak teman cowok sedangkan aku tidak. Karena aku lebih memilih bersikap cuek sama makhluk yang namanya cowok.
Bukan berarti aku nggak pernah pacaran loh. Dulu waktu masih kelas 1 SMU aku pernah punya pacar. Namanya Revanno Adams,dia kakak kelasku. Kita pacaran udah 3 tahun. Sampai pada akhirnya malapetaka itu datang. Kak Vanno yang seorang pembalap motor harus meregang nyawa di tempat favoritnya. Iya, Kak Vanno meninggal di Dublin sirkuit tahun lalu. Dunia ku langsung gelap,hancur berkeping-keping. Aku sangat mencintai Kak Vanno dan nggak akan ada yang bisa gantiin tempat dia di hati aku. Melihat orang yang paling kita cintai meregang nyawa didepan mata kita bukan hal yang mudah. Rasa sakit itu masih terasa sampai saat ini.
Terlebih lagi sehari sebelum balapan mulai aku dan Kak Vanno terlibat pertengkaran. “If I could turn back the time i would put you first in my life“, aku menyesali pertengkaran kami. Aku yakin Kak Vanno tidak bisa berkonsentrasi dan fokus karena terbebani oleh masalah kami berdua.
Tapi semuanya sudah terlambat, Kak Vanno sudah tenang di sisi Tuhan. Aku nggak bisa terus-terusan menangisi kepergiannya. Sejak saat itulah aku menjaga jarak dengan makhluk yang namanya cowok.
Kembali ke hari itu.
Clariss mengjakku ke kantin karena dia ingin menceritakan sesuatu.
Di kantin....
“Mau cerita apa sih?“ tanyaku penasaran.
Tapi Clariss malah senyum-senyum nggak jelas.
“Clariss.....“ panggilku, tapi Clariss tetap senyum-senyum gk jelas.
Aku pun mulai kesal dan hendak pergi meninggalkan Clariss.
Apa ya yg mau diceritain Clariss sampe bikin dia senyum-senyum gsk jelas.
Jawabannya ada di part 2
Rabu, 08 Agustus 2012
BLUE ( CHAPTER 9 )
*** FLASHBACK ****
“ Be Posi belakangan ini makin keren ! Pelangganku yang datang kesini kebanyakan fans kalian!” seru Shane sang pemilik bar dari balik konter.
Setahun yang lalu grup band Be Positive masih merangkak, tapi sekarang namanya sudah mulai menggeliat di kelas amatiran. Semua itu berkat perpaduan vocal Mark yang diiringi dengan manis oleh permainan music Bri dan teman-temannya. Aku jadi bangga.
“Ngomong-ngomong…”
Brian meletakkan gelas beer. Sebagai pemimpin band sepertinya ada yang mau dikatakannya.
****
“Belakangan ini fans Be Positive meningkat dan kemampuan main kita juga mengalami yang sama.”
“Aku tahu itu. Sebenarnya kamu itu mau bicaara apa?” Tanya Nicky.
Seperti biasa Bri langsung melotot dan berkata, “Diam! Dengar dengan baik!”
“Oke, pemimpin.”
“Menurutku sudah waktunya bagi kita untuk naik satu tingkat lagi.”
“Satu tinngkat?”
“Iya.”
Bola mata Bri yang ada di dalam sun glass berbinar.
“Dua bulan yang lalu perusahaan rekaman CSC mengadakan Indizu kontes.’
“Perusahaan rekaman CSC itu pengorbit penyanyi amatiran, kan?”
“Iya. Piringan yang dijual CSC banyak di pakai di Live House. Karena itu aku ingin kita ikut kontes yang mulai tahun ini dengan berkumpul di studio Indizu band.”
“Apa?”
“Kalau menang, kita akan diorbitkan CSC hingga bisa membuat debut professional.”
“Debut professional?” seru yang lain serempak.
“Begitulah.”
Bri menatap ke semua anggota, lalu tersenyum.
“Hebat.”
“Tantangan besar.”
Mark, Kian, dan Nicky saling bertatapan dengan mata berbinar. Aku bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka.
“Langkah pertama, lewat seleksi lewat rekaman kaset. Perlombaannya akhir bulan Juni atau awal Juli dan kalau kita menang di sana….”
“Debut professional!!” pekik Mark.
Debut professional bagi mereka adalah impian. Karena itu mereka menamai grup band mereka dengan nama BE POSITIVE. Mereka percaya akan menjadi professional. Sekarang ada kesempatan besar di hadapan mata untuk mewujudkan impian itu. Impian sepertinya bukan hanya sekedar impian lagi.
“Sebenarnya, diam-diam aku sudah mengirimkan rekaman kaset ke dewan juri dan sekarang pasti sedang dinilai.’
“Apa!?”
Bri mengedipkan sebelah matanya.
“Benar-benar pemimpin!”
“Semoga tahun ini kita sukses!”
Bri benar-benar berjiwa pemimpin.
Setalah rebut-ribut mereda, Bri menatap wajah anggotanya satu persatu.
“Mau ikut?”
“Mau!!” jawab yang lain penuh semangat.
Sinar mata mereka mengatakan bahawa tidak gentar menghadapi petualangan besar yang ada di depan mata.
Keesokkan harinya, anggota band Be Posi langsung sibuk. Kapasitas latihan ditambah tiga kali dari biasanya. Mereka juga kerja sambilan untuk mencari uang tambahan. Sejak berpacaran dengan Mark, aku baru tahu kalau grup band itu ternyata memerlukan banyak biaya. Yang pasti biaya sewa studio untuk latihan dan sewa peralatan. Semua anggota Be Positive sibuk bekerja demi mendapatkan uang.
Bri sebagai anak pengusaha konstruksi memilih kerja sambilan di proyek perbaikan jalan.
Kian bekerja sambilan sebagai pegawai di tokodi Seven Eleven.
Nicky sebagai guru privat dan Mark sebagai pelayan di MONKEY TREE BAR. Padahal Mark orang yang paling susah berinteraksi dengan orang lain, kan? Dan di MONKEY TREE BAR kebanyakan pengunjungnya fans Be Posi, pasti nanti kewalahan.
“Mark, ada?”
Sepulang sekolah dengan seplastik belanjaan, aku mampir ke kamar Mark. Pintunya tidak terkunci. Padahal sudah berkali-kali kuperingatkan untuk mengunci pintu dengan benar, tetap saja dia teledor.
Kamar Markyang berukuran 18 meter itu berantakan. Di atas lantai berserakan lirik lagu. Dia sendiri sedang asyik membuat lagu dengan YAMAHA NEW DX 711. Anggota Be Posi lainnya juga membuat lagu, biasanya semua lagu dikumpulkan lalu akan dipilih yang bagus-bagus saja.
“Berhasil!!”jerit Mark riang, seperti baru selesai mengerjakan PR liburan musim panas.
“Mark.’
Dia segera berbalik dan terseenyum.
“Bella.”
“Tidak mungkin?” aku menarik napas dalam-dalam. “Kemarin dan hari ini kamu bolos sekolah, makanya aku khawatir dan kesini. Waktu aku dating pun kamu tidak tahu.”
Karena sibuk latihan dan kerja sampingan Mark jadi sering bolos sekolah.
“Maaf, aku sedang bikin lagu, sampai tidak sadar kamu dating. Tapi sekarang sudah selesai>”
“Dari kemarin?”
Aku mengernyitkan alis.
“Mark, jangan-jangan…”
Mark segera membuang muka begitu kupelototi.
“Dari kemarinkamu tidak istirahat, kan?”
“Em…”
Dari wajahnya sudah tertebak.
“Terus?”
“Aku lupa,’ jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
“Dasar kamu!”
Aku segera mengeluarkan barang yang kubeli dari supermarket dan kutaruh di atas meja dapur, lalu kupakai celemek milikku sendiri.
“Sudah kuduga. Hari ini kerja jam berapa?”
“Dari jam 7.”
Sekarang sudah jam 5 lebih.
“Kalau begitu akan ku masak yang mudah-mudah saja.”
Dengan cepat aku segera memasak. Kuambil telur dari dalam kulkas lalu kucampur dengan sayuran, kemudian dari dalam plastic belanjaan kuambil roti dan daun selada lalu kupotong-potong.
“Bella, sudak tidak ada waktu, nih.”
“Tidak mau! Kamu dari kemarin tidak makan, kan? Makanlah sedikit!”
Mark dengan bengong melihat aku sibuk didapur.
Mark, jangan pandangi aku sepertti itu, kataku dalam hati sambil memasukan potongan daun selada ke mangkok.
Dasar Mark, maniak music. Begitu sibuk membuat lagu langsung lupa segalanya. Kalau dia sampai lebih kurus dari ini gawat!.
Tinggi Mark 175 cm dan berat 53 kilo. Aku tinggi 158 cm dan berat 45 kilo. Tinggi kami beda 20 cm. menyedihkan kan ??
**** TO BE CONTINUE….****
Yang masih penasaran tunggu kelanjutannya di chap selanjutnya yha….
“ Be Posi belakangan ini makin keren ! Pelangganku yang datang kesini kebanyakan fans kalian!” seru Shane sang pemilik bar dari balik konter.
Setahun yang lalu grup band Be Positive masih merangkak, tapi sekarang namanya sudah mulai menggeliat di kelas amatiran. Semua itu berkat perpaduan vocal Mark yang diiringi dengan manis oleh permainan music Bri dan teman-temannya. Aku jadi bangga.
“Ngomong-ngomong…”
Brian meletakkan gelas beer. Sebagai pemimpin band sepertinya ada yang mau dikatakannya.
****
“Belakangan ini fans Be Positive meningkat dan kemampuan main kita juga mengalami yang sama.”
“Aku tahu itu. Sebenarnya kamu itu mau bicaara apa?” Tanya Nicky.
Seperti biasa Bri langsung melotot dan berkata, “Diam! Dengar dengan baik!”
“Oke, pemimpin.”
“Menurutku sudah waktunya bagi kita untuk naik satu tingkat lagi.”
“Satu tinngkat?”
“Iya.”
Bola mata Bri yang ada di dalam sun glass berbinar.
“Dua bulan yang lalu perusahaan rekaman CSC mengadakan Indizu kontes.’
“Perusahaan rekaman CSC itu pengorbit penyanyi amatiran, kan?”
“Iya. Piringan yang dijual CSC banyak di pakai di Live House. Karena itu aku ingin kita ikut kontes yang mulai tahun ini dengan berkumpul di studio Indizu band.”
“Apa?”
“Kalau menang, kita akan diorbitkan CSC hingga bisa membuat debut professional.”
“Debut professional?” seru yang lain serempak.
“Begitulah.”
Bri menatap ke semua anggota, lalu tersenyum.
“Hebat.”
“Tantangan besar.”
Mark, Kian, dan Nicky saling bertatapan dengan mata berbinar. Aku bisa ikut merasakan kebahagiaan mereka.
“Langkah pertama, lewat seleksi lewat rekaman kaset. Perlombaannya akhir bulan Juni atau awal Juli dan kalau kita menang di sana….”
“Debut professional!!” pekik Mark.
Debut professional bagi mereka adalah impian. Karena itu mereka menamai grup band mereka dengan nama BE POSITIVE. Mereka percaya akan menjadi professional. Sekarang ada kesempatan besar di hadapan mata untuk mewujudkan impian itu. Impian sepertinya bukan hanya sekedar impian lagi.
“Sebenarnya, diam-diam aku sudah mengirimkan rekaman kaset ke dewan juri dan sekarang pasti sedang dinilai.’
“Apa!?”
Bri mengedipkan sebelah matanya.
“Benar-benar pemimpin!”
“Semoga tahun ini kita sukses!”
Bri benar-benar berjiwa pemimpin.
Setalah rebut-ribut mereda, Bri menatap wajah anggotanya satu persatu.
“Mau ikut?”
“Mau!!” jawab yang lain penuh semangat.
Sinar mata mereka mengatakan bahawa tidak gentar menghadapi petualangan besar yang ada di depan mata.
Keesokkan harinya, anggota band Be Posi langsung sibuk. Kapasitas latihan ditambah tiga kali dari biasanya. Mereka juga kerja sambilan untuk mencari uang tambahan. Sejak berpacaran dengan Mark, aku baru tahu kalau grup band itu ternyata memerlukan banyak biaya. Yang pasti biaya sewa studio untuk latihan dan sewa peralatan. Semua anggota Be Positive sibuk bekerja demi mendapatkan uang.
Bri sebagai anak pengusaha konstruksi memilih kerja sambilan di proyek perbaikan jalan.
Kian bekerja sambilan sebagai pegawai di tokodi Seven Eleven.
Nicky sebagai guru privat dan Mark sebagai pelayan di MONKEY TREE BAR. Padahal Mark orang yang paling susah berinteraksi dengan orang lain, kan? Dan di MONKEY TREE BAR kebanyakan pengunjungnya fans Be Posi, pasti nanti kewalahan.
“Mark, ada?”
Sepulang sekolah dengan seplastik belanjaan, aku mampir ke kamar Mark. Pintunya tidak terkunci. Padahal sudah berkali-kali kuperingatkan untuk mengunci pintu dengan benar, tetap saja dia teledor.
Kamar Markyang berukuran 18 meter itu berantakan. Di atas lantai berserakan lirik lagu. Dia sendiri sedang asyik membuat lagu dengan YAMAHA NEW DX 711. Anggota Be Posi lainnya juga membuat lagu, biasanya semua lagu dikumpulkan lalu akan dipilih yang bagus-bagus saja.
“Berhasil!!”jerit Mark riang, seperti baru selesai mengerjakan PR liburan musim panas.
“Mark.’
Dia segera berbalik dan terseenyum.
“Bella.”
“Tidak mungkin?” aku menarik napas dalam-dalam. “Kemarin dan hari ini kamu bolos sekolah, makanya aku khawatir dan kesini. Waktu aku dating pun kamu tidak tahu.”
Karena sibuk latihan dan kerja sampingan Mark jadi sering bolos sekolah.
“Maaf, aku sedang bikin lagu, sampai tidak sadar kamu dating. Tapi sekarang sudah selesai>”
“Dari kemarin?”
Aku mengernyitkan alis.
“Mark, jangan-jangan…”
Mark segera membuang muka begitu kupelototi.
“Dari kemarinkamu tidak istirahat, kan?”
“Em…”
Dari wajahnya sudah tertebak.
“Terus?”
“Aku lupa,’ jawabnya sambil garuk-garuk kepala.
“Dasar kamu!”
Aku segera mengeluarkan barang yang kubeli dari supermarket dan kutaruh di atas meja dapur, lalu kupakai celemek milikku sendiri.
“Sudah kuduga. Hari ini kerja jam berapa?”
“Dari jam 7.”
Sekarang sudah jam 5 lebih.
“Kalau begitu akan ku masak yang mudah-mudah saja.”
Dengan cepat aku segera memasak. Kuambil telur dari dalam kulkas lalu kucampur dengan sayuran, kemudian dari dalam plastic belanjaan kuambil roti dan daun selada lalu kupotong-potong.
“Bella, sudak tidak ada waktu, nih.”
“Tidak mau! Kamu dari kemarin tidak makan, kan? Makanlah sedikit!”
Mark dengan bengong melihat aku sibuk didapur.
Mark, jangan pandangi aku sepertti itu, kataku dalam hati sambil memasukan potongan daun selada ke mangkok.
Dasar Mark, maniak music. Begitu sibuk membuat lagu langsung lupa segalanya. Kalau dia sampai lebih kurus dari ini gawat!.
Tinggi Mark 175 cm dan berat 53 kilo. Aku tinggi 158 cm dan berat 45 kilo. Tinggi kami beda 20 cm. menyedihkan kan ??
**** TO BE CONTINUE….****
Yang masih penasaran tunggu kelanjutannya di chap selanjutnya yha….
BLUE / CHAPTER 8
*** FLASHBACK ***
“Akhirnya Bella akan jadi manajer Mark!“
“Tidak Bri!“
Bri pemimpin band dan Kak Nicky, pemain bass tersenyum penuh arti.
Mark dengan tenang minum sport drink tanpa peduli wajahku yang memerah karena kesal.
“Mark, katakan sesuatu!“
“Aku tidak ikutan.“
“Mark!“
****
Dengan tenang, Mark kembalu minum dan kekesalanku semakn besar. Walaupun begitu kejadian hari ini bagiku masih seperti mimpi. Kekesalan yang kurasa dengan cepat hilang dan berganti bahagia.
Mark yang selalu kurindu dan hanya mampu kulihat dari jauh sekarang berada dekay di mata. Setahun yang lalu aku tidak pernah memimpikan hal seperti ini terjadi. Iya, sekarang tepat setahun berlalu.
Di Live House ini aku pertama kali melihat penampilan Mark dan ngobrol dengannya. Berkat hari itu, aku jadi selalu mengikuti pertunjukan Be Positive. Di sekolah pun aku bisa ngobrol akrab dengannya dan aku pun sering diajak ikut serta dalam latihan. Hingga kini anggota yang lain mengakui aku sebagai pacar Mark. Bri pernah bercerita kalau Mark sejak pertama kali bertemu aku di Live House terus mengingat wajahku.
Pertama kali itu saat musim gugur kelas 3 SMP satu setengah tahun yang lalu. Ternyata saat itu Mark sadar telah diperhatikan terus olehku.
“Habis, tiba-tiba ada cewek yang terus melototin aku sampai perasaanku tidak enak. . .“ ujar Mark.
Sejak itu aku meninggalkan kesan yang dalam di hati Mark dan tanpa sengaja kami sekelas di SMU yang sama.
“Untung kamu ngomong waktu di Fun House, kalau tidak aku akan mengira kamu manusia aneh yang selalu memelototiku.“
Mark pasti tidak bermaksud mengatakan kesanku di matanya itu dulu buruk sekali.
“Mark itu tidak pernah tertarik cewek, tiba-tiba dia cerita di kelasnya ada makhluk aneh yang suka melototin dia. Saat itu kami kaget, apalagi ketika kami tahu kalau yang dia ceritakan itu cewek, benar-benar mengejutkan.“
Bri waktu pertama kali bertemu aku setelah pertunjukan selesai, langsung sadar kalau cewek yang Mark bicarakan itu adalah aku. Karena itu Bri langsung memaksaku ikut pesta. Meskipun begitu, Bri dan yang lain tidak pernah berniat untuk menjodohkab aku dan Mark.
Bri diam-diam juga mengatakan kalau Mark yang sejak SMP bergabung sudah dianggap adik oleh mereka. Karena itu mereka sangat khawatir waktu melihat kenyataan teman Mark selain mereka tidak ada.
“Mark dididik terlalu keras oleh ayahnya yang selalu menentangnya. Makanya itu dengan usahanya sendiri, dia akan tumbuh dewasa dan menemukan dunianys sendiri. Makanya dia tidak mau terlalu akrab dengan siapapun. Pencaran jati diri memang terkadang menyebalkan.“
Aku setuju dengan ucapan Kak Bri. Mark sering mendengarkan walkman sendirian di atas atap sekolah dan mengacuhkan guru yang sedang menerangkan. Kerjanya setiap hari hanya menyendiri dan persis anak hilang.
“Kami tahu soal Bella dari dia. Waktu bertemu kamu, kami segera tahu kalau kamu pasti bisa memahami Mark.“
Hatiku menjerit bahagia waktu mendengar itu. Tidak kusangka, ternyata Bri dan yang lainnya memberi penilaian yang sangat baik padaku. Mereka sangat memikirkan masa depan Mark.
Aku juga perlahan-lahan akan berusaha untuk membantu Mark sebisa mungkin. Sejak saat itu Bella yang lemah dan pemalu akhirnya jadi kuat.
“Toast! Untuk kesuksesan hari ini!“
“Toast! Supaya Be Positive terus maju!“
Bunyi dentingan gelas beradu, menyejukkan hati.
“Lezat.“
Sehabis pertunjukan, minum smoothies memang menyenangkan.
“Be Posi belakangan ini makin keren! Pelangganku yang datang ke sini kebanyakan fans kalian!“ Seru Shane sang pemilik bar dari balik konter.
Setahun yang lalu grup band Be Positive masih merangkak, tapi sekarang namanya sudah menggeliat di kelas amatiran. Semua itu berkat perpaduan vokal Mark yang diiringi dengan manis oleh Bri dan teman-temannya. Aku jadi bangga.
“Ngomong-ngomong . . .“
Bri meletakkan gelas beer. Sebagai pemimpin band sepertinya ada yang mau dikatannya.
*** TO BE CONTINUED. . . ***
Kira-kira apa ya yang mau disampaikan Brian.
Tunggu lanjutannya di chapter 9 yaaaa..
“Akhirnya Bella akan jadi manajer Mark!“
“Tidak Bri!“
Bri pemimpin band dan Kak Nicky, pemain bass tersenyum penuh arti.
Mark dengan tenang minum sport drink tanpa peduli wajahku yang memerah karena kesal.
“Mark, katakan sesuatu!“
“Aku tidak ikutan.“
“Mark!“
****
Dengan tenang, Mark kembalu minum dan kekesalanku semakn besar. Walaupun begitu kejadian hari ini bagiku masih seperti mimpi. Kekesalan yang kurasa dengan cepat hilang dan berganti bahagia.
Mark yang selalu kurindu dan hanya mampu kulihat dari jauh sekarang berada dekay di mata. Setahun yang lalu aku tidak pernah memimpikan hal seperti ini terjadi. Iya, sekarang tepat setahun berlalu.
Di Live House ini aku pertama kali melihat penampilan Mark dan ngobrol dengannya. Berkat hari itu, aku jadi selalu mengikuti pertunjukan Be Positive. Di sekolah pun aku bisa ngobrol akrab dengannya dan aku pun sering diajak ikut serta dalam latihan. Hingga kini anggota yang lain mengakui aku sebagai pacar Mark. Bri pernah bercerita kalau Mark sejak pertama kali bertemu aku di Live House terus mengingat wajahku.
Pertama kali itu saat musim gugur kelas 3 SMP satu setengah tahun yang lalu. Ternyata saat itu Mark sadar telah diperhatikan terus olehku.
“Habis, tiba-tiba ada cewek yang terus melototin aku sampai perasaanku tidak enak. . .“ ujar Mark.
Sejak itu aku meninggalkan kesan yang dalam di hati Mark dan tanpa sengaja kami sekelas di SMU yang sama.
“Untung kamu ngomong waktu di Fun House, kalau tidak aku akan mengira kamu manusia aneh yang selalu memelototiku.“
Mark pasti tidak bermaksud mengatakan kesanku di matanya itu dulu buruk sekali.
“Mark itu tidak pernah tertarik cewek, tiba-tiba dia cerita di kelasnya ada makhluk aneh yang suka melototin dia. Saat itu kami kaget, apalagi ketika kami tahu kalau yang dia ceritakan itu cewek, benar-benar mengejutkan.“
Bri waktu pertama kali bertemu aku setelah pertunjukan selesai, langsung sadar kalau cewek yang Mark bicarakan itu adalah aku. Karena itu Bri langsung memaksaku ikut pesta. Meskipun begitu, Bri dan yang lain tidak pernah berniat untuk menjodohkab aku dan Mark.
Bri diam-diam juga mengatakan kalau Mark yang sejak SMP bergabung sudah dianggap adik oleh mereka. Karena itu mereka sangat khawatir waktu melihat kenyataan teman Mark selain mereka tidak ada.
“Mark dididik terlalu keras oleh ayahnya yang selalu menentangnya. Makanya itu dengan usahanya sendiri, dia akan tumbuh dewasa dan menemukan dunianys sendiri. Makanya dia tidak mau terlalu akrab dengan siapapun. Pencaran jati diri memang terkadang menyebalkan.“
Aku setuju dengan ucapan Kak Bri. Mark sering mendengarkan walkman sendirian di atas atap sekolah dan mengacuhkan guru yang sedang menerangkan. Kerjanya setiap hari hanya menyendiri dan persis anak hilang.
“Kami tahu soal Bella dari dia. Waktu bertemu kamu, kami segera tahu kalau kamu pasti bisa memahami Mark.“
Hatiku menjerit bahagia waktu mendengar itu. Tidak kusangka, ternyata Bri dan yang lainnya memberi penilaian yang sangat baik padaku. Mereka sangat memikirkan masa depan Mark.
Aku juga perlahan-lahan akan berusaha untuk membantu Mark sebisa mungkin. Sejak saat itu Bella yang lemah dan pemalu akhirnya jadi kuat.
“Toast! Untuk kesuksesan hari ini!“
“Toast! Supaya Be Positive terus maju!“
Bunyi dentingan gelas beradu, menyejukkan hati.
“Lezat.“
Sehabis pertunjukan, minum smoothies memang menyenangkan.
“Be Posi belakangan ini makin keren! Pelangganku yang datang ke sini kebanyakan fans kalian!“ Seru Shane sang pemilik bar dari balik konter.
Setahun yang lalu grup band Be Positive masih merangkak, tapi sekarang namanya sudah menggeliat di kelas amatiran. Semua itu berkat perpaduan vokal Mark yang diiringi dengan manis oleh Bri dan teman-temannya. Aku jadi bangga.
“Ngomong-ngomong . . .“
Bri meletakkan gelas beer. Sebagai pemimpin band sepertinya ada yang mau dikatannya.
*** TO BE CONTINUED. . . ***
Kira-kira apa ya yang mau disampaikan Brian.
Tunggu lanjutannya di chapter 9 yaaaa..
*** BLUE *** ( CHAPTER VII )
*** FLASHBACK ***
Mark menggengam tanganku dan mengajak lari.
“Woi, brengsek! Tunggu!“ teriak cowok itu ketika berhasil berdiri lagi.
Teriakan keras cowok itu tidak terdengar sedikitpun di telingaku. . .
***
Sebuah taman kecil yang ada disebuah gedung di Sligo. Kami terus berlari sampai ke taman itu. Dengan napas tersengal-sengal kami duduk di sebelah papan perosotan yang ada di atas pasir. Untuk beberapa saat bunyi napas yang tersengal-sengal saling berkejaran. Lalu kami saling bertatapan dan tertawa bersama. Tertawa yang tidak jelas penyebabnya. Mungkin kami tegang, lega, atau senang. . .
“Aku tidak sengaja menendang si brengsek itu!“
“Eh, tampaknya si brengsek itu tadi kesakitan, ya.“
Untuk pertama kalinya aku melihat senyum Mark. Senyuman itu membuatku bahagia.
Akhirnya setelah tawa kami berhenti, suasana jadi sunyi-senyap.
Benakku jadi kosong. Aneh! Kenapa aku datang ke tempat ini bersama Mark.
“Mark?“
Dia tidak menjawab, hanya menguap. Lalu aku tanya sekali lagi.
“Mark?“
“Ya?“ jawabnya dengan tampang ngantuk.
“Kamu, kenapa? Ngantuk?“
“Sehabis minum beer lalu lari, kepalaku jadi pusing,“ ujarnya sambil mengedipkan mata.
“Mark, kenapa tadi bisa datang? Anggota yang lainnya mana?“
“Kak Brian dan yang lainnya. . .“
“Eh?“
“Kak Bri bilang kalau cewek jalan sendirian itu bahaya jadi lebih baik diantar sampai stasiun,“ jelas Mark dengan sedikit kesal.
“Oh. . .“
Pantas saja dia mengikuti dari belakang.
“Mark, terima kasih.“
Mark tidak menjawab apa pun.
Bunyi embusan daun pohon tertiup angin terdengar nyaring.
“Aku. . . Aku tahu kamu.“
“Eh?“
“Sejak masuk sekolah kamu terus. . .“
Detak jantungku berdegup kencang menebak kalimay berikutnya. Suara Mark yang mengantuk terdengar kembali.
“Sebenarnya sebelum masuk sekolah dari awal. . .“
“Mark?“ tanyaku dengan suara bergetar.
Sebenarnya aoa maksud ucapannya? Tapi tidak dijawabnya. Yang terdengar hanya bunyi dengkuran yang halus.
“Mark?“
Dia tertidur dengab bersandar di papan perosotan dan kaki menjulur lurus ke depan. Persis anak kecil yang letih bermain.
“Mark, payah! Tidak baik tidur di tempat seperti ini!“
Buru-buru aku berusaha membangunkan, tapi badannya menempel ke badanku dan kepalanya jatuh ke bahuku.
Degup jantungku makin kencang karena tidak menyangka akan berdekatan sedekat ini.
Helai demi helai rambutnya tersibak semua sehingga wajahnya jadi mendekat ke aku. Dari poninya tercium bau sampo dan foam.
Ini tidak baik. Biar bagaimanapun kami ini adalah cowok dan cewek! Mark dengan tenang tetap tidur tanpa peduli. wajah tidurnya yang tenang dan polos itu, membuatku ingin tertawa. Mark polos sekali tidur di bahu cewek. Seorang diri aku mengkhayalkan yang aneh-aneh. Tidak baik memang. Kejadian ini hanya sebuah oasis kecil di tengah keramaian kota.
Waktu mengalir dengan tenang seperti mimpi. Aku tidak jadi membangunkan Mark dab terus menatap wajah tidurnya ini.
Rasanya seperti ibu kucing yang menjaga anaknya tidur.
***
Prok! prok!
Tepuk tangan untuk pemain ancor terdengar untuk kedua kalinya.
Setelah pertunjukan kedua permainan lagu ancor di Live Spot Fun House selesai, giliran grup band Be Positive tampil.
“Sini!“
“Aku sudah tidak kuat. Ini melebihi kekuatanku.“
Semua anggota band basah oleh keringat.
“Kalian keren!“ ujarku sambil membagikan satu-persatu handuk. Khusus untuk Mark yang datang terakhir, aku bagikan handuk dan sport drink.
“Ini, Mark.“
“Ya.“
“Kenapa hanya Mark? Bella, curang...“
seru Kian.
“Jangan salah. Nanti bagan kalian juga ada!“ balasku, walaupun tahu Kian hanya menggoda. Si Kian yang tukang cari perhatian memang selalu begitu.
“Akhirnya Bella akan jadi manajer Mark!“
“Tidak Kak Bri!“
Kak Brian pemimpin band itu dan Nicky, pemain bass tersenyum penuh arti.
Mark dengan tenang minum sport drink tanpa peduli wajahku yang memerah karena kesal.
“Mark, katakan sesuatu!“
“Aku tidak ikutan.“
“Mark!“
*** TO BE CONTINUED ***
Hmmmm....
Kira-kira ada kejadian apalagi ya.
Tunggu aja kelanjutannya ya.
Comment sma like nya ya buat yg udah pada baca.
Paypay :*
*Dadah2 smbil gandeng Mark :P
Mark menggengam tanganku dan mengajak lari.
“Woi, brengsek! Tunggu!“ teriak cowok itu ketika berhasil berdiri lagi.
Teriakan keras cowok itu tidak terdengar sedikitpun di telingaku. . .
***
Sebuah taman kecil yang ada disebuah gedung di Sligo. Kami terus berlari sampai ke taman itu. Dengan napas tersengal-sengal kami duduk di sebelah papan perosotan yang ada di atas pasir. Untuk beberapa saat bunyi napas yang tersengal-sengal saling berkejaran. Lalu kami saling bertatapan dan tertawa bersama. Tertawa yang tidak jelas penyebabnya. Mungkin kami tegang, lega, atau senang. . .
“Aku tidak sengaja menendang si brengsek itu!“
“Eh, tampaknya si brengsek itu tadi kesakitan, ya.“
Untuk pertama kalinya aku melihat senyum Mark. Senyuman itu membuatku bahagia.
Akhirnya setelah tawa kami berhenti, suasana jadi sunyi-senyap.
Benakku jadi kosong. Aneh! Kenapa aku datang ke tempat ini bersama Mark.
“Mark?“
Dia tidak menjawab, hanya menguap. Lalu aku tanya sekali lagi.
“Mark?“
“Ya?“ jawabnya dengan tampang ngantuk.
“Kamu, kenapa? Ngantuk?“
“Sehabis minum beer lalu lari, kepalaku jadi pusing,“ ujarnya sambil mengedipkan mata.
“Mark, kenapa tadi bisa datang? Anggota yang lainnya mana?“
“Kak Brian dan yang lainnya. . .“
“Eh?“
“Kak Bri bilang kalau cewek jalan sendirian itu bahaya jadi lebih baik diantar sampai stasiun,“ jelas Mark dengan sedikit kesal.
“Oh. . .“
Pantas saja dia mengikuti dari belakang.
“Mark, terima kasih.“
Mark tidak menjawab apa pun.
Bunyi embusan daun pohon tertiup angin terdengar nyaring.
“Aku. . . Aku tahu kamu.“
“Eh?“
“Sejak masuk sekolah kamu terus. . .“
Detak jantungku berdegup kencang menebak kalimay berikutnya. Suara Mark yang mengantuk terdengar kembali.
“Sebenarnya sebelum masuk sekolah dari awal. . .“
“Mark?“ tanyaku dengan suara bergetar.
Sebenarnya aoa maksud ucapannya? Tapi tidak dijawabnya. Yang terdengar hanya bunyi dengkuran yang halus.
“Mark?“
Dia tertidur dengab bersandar di papan perosotan dan kaki menjulur lurus ke depan. Persis anak kecil yang letih bermain.
“Mark, payah! Tidak baik tidur di tempat seperti ini!“
Buru-buru aku berusaha membangunkan, tapi badannya menempel ke badanku dan kepalanya jatuh ke bahuku.
Degup jantungku makin kencang karena tidak menyangka akan berdekatan sedekat ini.
Helai demi helai rambutnya tersibak semua sehingga wajahnya jadi mendekat ke aku. Dari poninya tercium bau sampo dan foam.
Ini tidak baik. Biar bagaimanapun kami ini adalah cowok dan cewek! Mark dengan tenang tetap tidur tanpa peduli. wajah tidurnya yang tenang dan polos itu, membuatku ingin tertawa. Mark polos sekali tidur di bahu cewek. Seorang diri aku mengkhayalkan yang aneh-aneh. Tidak baik memang. Kejadian ini hanya sebuah oasis kecil di tengah keramaian kota.
Waktu mengalir dengan tenang seperti mimpi. Aku tidak jadi membangunkan Mark dab terus menatap wajah tidurnya ini.
Rasanya seperti ibu kucing yang menjaga anaknya tidur.
***
Prok! prok!
Tepuk tangan untuk pemain ancor terdengar untuk kedua kalinya.
Setelah pertunjukan kedua permainan lagu ancor di Live Spot Fun House selesai, giliran grup band Be Positive tampil.
“Sini!“
“Aku sudah tidak kuat. Ini melebihi kekuatanku.“
Semua anggota band basah oleh keringat.
“Kalian keren!“ ujarku sambil membagikan satu-persatu handuk. Khusus untuk Mark yang datang terakhir, aku bagikan handuk dan sport drink.
“Ini, Mark.“
“Ya.“
“Kenapa hanya Mark? Bella, curang...“
seru Kian.
“Jangan salah. Nanti bagan kalian juga ada!“ balasku, walaupun tahu Kian hanya menggoda. Si Kian yang tukang cari perhatian memang selalu begitu.
“Akhirnya Bella akan jadi manajer Mark!“
“Tidak Kak Bri!“
Kak Brian pemimpin band itu dan Nicky, pemain bass tersenyum penuh arti.
Mark dengan tenang minum sport drink tanpa peduli wajahku yang memerah karena kesal.
“Mark, katakan sesuatu!“
“Aku tidak ikutan.“
“Mark!“
*** TO BE CONTINUED ***
Hmmmm....
Kira-kira ada kejadian apalagi ya.
Tunggu aja kelanjutannya ya.
Comment sma like nya ya buat yg udah pada baca.
Paypay :*
*Dadah2 smbil gandeng Mark :P
*** BLUE *** (Chapter VI)
*** FLASHBACK***
“Toast!!”
Pesta itu digelar di Monkey Tree Bar yg ada di sebelah Live House. Interior bar yg dibuat seperti tahun 50-an dengan kesan pop tampak unik. Pemilik bar yg masih muda dengan santai berkata, “Be posi. Belakangan ini makin tenar, ya!”
Anggota band Be Positive memang sering dating ke tempat ini. Sedangkan aku baru pertama kali masuk ke tempat seperti ini dan masih belum percaya kalau bisa dating ke sini bersama orang-orang yg membuaiku dari atas panggung tadi. Otomatis aku jadi terbengong-bengong.
***
“Toast untuk Bella penggemar kami,” ujar si pemain drum sambil menempelkan gelas minumannya yg berisi bir ke gelas ku yg berisi smoothies.
“Oh, terima kasih.”mendengar ucapan terima kasihku itu, dia kembali tertawa lalu memperkenalkan anggota band lainnya.
“Aku pemimpin band ini yg memainkan drum. Namaku Brian McFadden. Panggil saja kak Bri. Lengkapnya Brian Nicholas McFadden. 21 tahun. Kuliah tingkat 3. Senang berkenalan denganmu.”
Tinggi badan Kak Brian lebih 180 senti. Bertubuh tegap dan berambut cepak dengan kacamata hitam lensa bulat. Sekilas dia seperti pekerja bangunan daripada pemain band (haih.. siap-siap dibunuh istri2nya Brian nih xD). Ayahnya memang pemilik perusahaan konstruksi. Meskipun begitu Kak Brian lembut tidak kasar seperti pekerja bangunan umumnya. Pantas saja dia jadi pemimpin karena bisa diandalkan.
“Aku Kian Egan, pemain gitar. Kuliah tingkat 1 di Dublin University yg urutan tiga besar di negeri ini. Panggil aku Kian, ya!”
Orang ini yg tadi tertawa duluan. Rambutnya pirang dan jabrik seperti rambut kucing (upssss, digorok indah sama ghita nihhhh, heheheheh piss xD). Dia memakai Tshirt longgar dan celana jins panjang. Saat tertawa matanya langsung menyipit sampai tertutup.
“Nicholas Byrne. Tingkat dua universitas kedokteran. Aku senior kalian,” ujar si pemain bass.
Kak Nicky sejak SD sekolah di Summerhill, sama seperti Mark. Ayahnya seorang dokter. Pakaian yg dikenakannya bermerk, tapi dia tidak sombong. Seleranya bagus dan tampangnya cakep mirip seorang model. Mereka bertiga bersama Mark membentuk grup bannd rock amatiran dengan nama Be Positive. Latar belakang mereka berempat yg berbeda itu tidak jadi penghalang untuk saling bekerja sama dengan kompak di atas panggung. Cita-cita mereka adalah menjadi pemain band professional. Nama Be Postive adalah pertanda keoptimisan mereka untuk jadi pemain band professional. Pendeknya mereka terus percaya, bahwa kelak pasti akan jadi pemain band professional. Waktu menceritakan semua itu, sinar mata Kak Bri yg berusia lebih tua dariku berbinar-binar seperti anak kecil.
Hingga kini aku belum pernah bertemu cowok yg menceritakan impian seperti mereka. Pengalaman hari ini sangat baru, segar, dan menyenangkan. Di antara mereka yg asyik mengobrol ini, aku yg paling bahagia. Dan Mark tetap saja diam sambil minum bir beralkohol ringan karena usianya paling muda. Jangan-jangan dia kesal dengan kehadiranku di sini. Aku mengkhawatirkan Mark dan terus menatapnya. Pemain gitar si Kian menyadari tingkahku ini.
“Sudah jangan risaukan dia. Dia memang begitu, yak an Mark?” godanya sambil menatap Mark.
“Jangan berisik. Dasar Kian.”
“Mark jangan malu-malu,dong!” godanya sambil mengelus kepalanya. Dia agak tersedak saat meminum birnya. Yang lainnya memperhatikan Mark dengan senyum-senyum. Di antara mereka, Marklak yg paling muda. Pasti dia dianggap adik oleh mereka. Tingkah Mark yg malu digoda dan diperlakukan seperti anak kecil oleh mereka bertiga membuatku bengong karena sikapnya itu sangat jauh berbeda dengan di sekolah. Saat itu terlihat jelas Mark yg kesepian dan kurang mendapat perhatian. Mark meskipun marah dan membalas perlakuan mereka bertiga, tetap terlihat tenang dan santai. Aku bahagia karena dia tetap sebagai cowok usia 15 tahun.
Tapi kehadiranku yg orang luar di antara mereka ini pasti membuat kesal Mark. Ketika mata kami tanpa sengaja bertemu, Mark langsung membuang muka. Kehadiranku pasti sangat mengganggu.
“Aku mau pulang,” ujarku lalu berdiri. Kak Brian menatapku dan Mark bergantian.
“Jangn buru-buru.”
“Tapi…”
Mark seperti biasa tidak menoleh.
“Kalau tidak cepat pulang, seisi rumah pasti panic.” Setelah berkata begitu aku melihat jam tangan.
Hah! Sudah jam 20.45. aku sampai lupa waktu dan kalau tidak cepat pulang bisa gawat. Tadi aku janji ke Mama pulang jam 21.00.
“Ini uang untuk bayar smoothies.”
“Sudah tidak usah. Kami yang mengajak kamu dating.”
“Tapi…”
Aku tidak mau. Kutaruh uang diatas meja lalu beranjak pergi.
“Hari ini sangat menyenangkan. Selamat malam.”
“Eh, Bella.”
“Mark, cepat katakan sesuatu!” desak Nicky ke Mark. Tapi tetap saja Mark diam.
“Lho? Sudah mau pulang?” Tanya pemilik bar dari dalam konter.
“Iya. Terima kasih banyak,” ujarku sambil menundukkan kepala lalu keluar bar.
Kota Sligo jam 21.00 masih ramai seperti siang hari.
Di antara kerumunan mahasiswa dan orang kantoran, aku berjalan tergesa-gesa melintasi jalan taman menuju stasiun. Setiap kali mengingat sikap Mark yg dingin tadi hatiku jadi sedih. Meskipun begitu aku bangga akhirnya aku bisa memanggil namanya. Bella mulai maju selangkah. Dengan tak disangka-sangka aku berkenalan dengan anggota band Mark. Kak Bri si pemain drum, Kian yg cool dan Nicky yg sepertinya agak playboy. Mereka semua menyenangkan dan keren. Beruntunglah Mark dikelilingi kumpulan orang seperti itu. Hatiku jadi lega dan tenang.
“Eh, kamu mau kemana?”
“Eh?”
Aku segera berhenti dan bebalik begitu mendengar suara cowok memanggilku.
“Ada apa?”
“Kamu kesepian, kan? Tidak baik main seorang diri malam-malam begini.”
“Apa?”
“Kamu sedang tidak ada kencan dengan pacar kan? Lagi patah hati, ya?”
“Tidak.”
Cowok itu sepertinya mabuk. Ketika dia berjalan mendekat dari mulutnya tercium jelas bau minuman dengan kadar alcohol yg cukup besar.
“Aku hari ini mau merayakan pesta bersama teman kuliah. Tadi aku minum di sana tapi tidak ada cewek jadi tidak enak. Mau tidak menemaniku?”
“A…apa?”
Cowok ini pasti punya niat jahat.
“Tidak, terima kasih. Aku punya batasan jam malam.”
“Jam malam? Ah, tenang saja kamu dalam lindunganku. Ayo, kakak mau ajak kamu ke suatu tempat yg menyenangkan. Tuh, di blok enam dari sini. Kita naik taksi saja supaya cepat sampai.”
Biasanya cewek baik-baik begitu mengetahui hal itu pasti langsung kabur. Tapi aku malah bengong tidak tahu harus berbuat apa. Pejalan kaki lainnya yg terbiasa dengan kehidupan malam seperti ini terus berjalan dengan cuek. Ketika lenganku dengan paksa ditariknya serta-merta aku berteriak.
“Lepaskan! Tidak mau!”
“Sudahlah. Ayo, jalan.”
“Tidak! Aku tidak mau.”
“Sakit!” Mendadak anak kuliah itu melepas cengkramannya.
Tubuhnya terjorok ke depan karena pantatnya ditendang seseorang dari belakang. Aku segera menoleh ke belakang untuk melihat siapa yg menendangnya. Mataku langsung terbelalak lebar. Mark?
Mark berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana jinsnya.
“Mark?”
Saat aku bengong menatap dia, cowok itu bangkit berdiri dan menuju ke arah Mark.
“Mau apa kamu!?”
Mark diam dan terus menatapnya dingin.
“Kamu yg menendangku, kan?”
“Ya,” jawabnya lalu berjalan selangkah demi selangkah kea rah cowok itu. Aku langsung panic dan berteriak karena Mark terlalu berani.
“Dasar brengsek!”
Tingkah Mark membuat cowok itu marah besar. Dengan kasar kerah baju Mark direnggutnya.
“Ah! Mark!” pekikku lalu tanpa sadar aku berjalan ke arah Mark dan di luar dugaan…
“Mau apa kamu!?” seruku sambil memukulkan tas ransel ke kepala cowok itu.
“Sakit!”
Jeritan itu membuatku sadar dan bengong.
Tidak mungkin.
Mark menatapku sekilas lalu kembali menendang lutut cowok itu.
“@#!$%&*”
Cowok itu sampai kehilangan suara karena kesakitan.
“Sini!”
“Eh?”
Mark menggenggam tanganku dan mengajak lari.
“Woi, brengsek! Tunggu!” teriak cowok itu ketika berhasil berdiri lagi.
Teriakan keras cowok itu tidak terdengar sedikitpun di telingaku…
***TO BE CONTINUED***
Kira-kira Mark sama Bella ketangkep gak yha sama cowok pemabuk itu..
Stayed tune yha…
Langganan:
Postingan (Atom)